Eha Nuraeti : Untuk Selamatkan Diri Mending Saya Telanjang

oleh -332 pembaca

KRSUMSEL.com – Eha menjadi salah satu korban selamat dari kecelakaan bus Sri Padma yang masuk jurang.

Kecelakaan bus Pariwisata Sri Padma Kencana pada Rabu malam 10 Maret 2021 lalu menyisakan cerita dari korban yang selamat. Salah satu korban yang berhasil selamat dari kecelakaan maut itu adalah Eha Nuraeti (55).

Wanita asal Sumedang ini mengaku terpaksa telanjang untuk menyelamatkan diri dari kecelakaan maut bus di Tanjakan Cae, Wado, Sumedang.

Warga Pasirlaja, Desa Pakuhaji, Kecamatan Cisalak, Subang, ini mengaku awalnya ia ikut mendampingi anaknya dalam rombongan ziarah tersebut karena khawatir jika sang anak pergi sendirian.

Eha bercerita tentang bagaimana prosesnya ia bisa selamat. Sebelum kecelakaan terjadi Eha sempat mencium bau kampas rem yang terbakar.

Betapa terkejut kala supir mengatakan rem bus yang dikemudikannya itu blong. Hingga akhirnya pada tikungan yang cukup curam, bus tersebut terjungkal terjungkal ke dasar jurang di Tanjakan Cae, Wado, Sumedang.

Sesaat sebelum jatuh para penumpang terdengar berteriak, mengucap takbir bahkan ada yang bersolawat.

Eha juga mengaku ia tak tahu persis apa yang terjadi pada saat peristiwa itu berlangsung. Tapi ia menjelaskan secara detail saat ia menyelematkan diri dari bus tersebut.

“Saya terpaksa harus telanjang untuk keluar dari dalam bus. Awalnya saya malu, tapi saat itu juga mati lampu dan keadaan gelap saya buka saja bajunya,” ujar Eha dilansir Tribun Jumat 12 MAret 2021.

Namun mengingat kondisi kakinya yang terjepit jok bis, maka ia terpaksa membuka bajunya.

“Saya waktu itu tengkurap, baju dan kaki terjepit, waktu itu bilang ke si Ujang (keponakan Eha) masa Ibu buka baju telanjang.”

“Kata si Ujang, gak apa-apa buka baju yang penting buka.”

Tak pikir panjang, kala itu dalam benak Eha hanya mengatakan ‘mending malu daripada mati’.

“Setelah baju dibuka, saya keluar, tapi gak tahu keluarnya ke mana.”

Ia juga sempat melihat ada selimut yang tersangkut di jok bus nahas tersebut. Tak pikir panjang, ia ambil selimut itu dan segera mencari pertolongan.

“Terus saya lihat ada selimut jok bus, dipake sama saya terus jalan kaki ke rumah warga yang menolong untuk istirahat sambil minta ganti baju,” ujar Eha.

Ia mengaku sempat malu harus membuka bajunya tersebut. Namun hal itu akhirnya dilakukan agar dirinya bisa selamat.

Sepeti yang ia ungkapkan sebelumnya, firasatnya tidak enak jika meninggalkan sang anak tur sendiri. Awalnya ia tidak berniat ikut rombongan ziarah.

Namun, ia ikut karena khawatir kepada anaknya yang siswa SMP IT Al Muawanah yang saat itu jadi peserta rombongan ziarah.

“Saya khawatir terjadi sesuatu, ada firasat gak enak. Awalnya emang cuma mau nganter Ucup sampai ke depan bus.”

“Tapi diajak karena masih ada kursi kosong, akhirnya pulang, siap-siap mandi ikut ke sana,” imbuhnya.

Eha, yang saat itu hendak pergi ke sawah, akhirnya ikut juga bersama Yusup, putranya, yang ikut ziarah.

Eha, Yusup, dan Ujang termasuk dalam korban selamat pada kecelakaan maut tersebut.

Eha mengatakan, ziarah merupakan kegiatan sekolah yang diadakan pihak sekolah setiap tahunnya.

Eha juga memerinci ongkos ziarah tersebut. “Siswa yang ikut harus membayar Rp350 ribu. Kalau orang tua pendamping yang ikut bayar Rp250 ribu.”

“Kalau gak ikut siswa tetap harus bayar Rp100 ribu untuk biaya komputer,” katanya. (hopsid)

 

Sumber