Karhutla di Sulsel Berdampak Mengancam Kerusakan Lukisan Manusia Purba 

oleh

Krsumsel.com, Makassar – Sejumlah lukisan tertua manusia purba di situs prasejarah dalam goa terancam rusak serta hilang dampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terus meluas di wilayah karst Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung Sulawesi Selatan (Sulsel).

“Kebakaran yang terjadi di kawasan situs arkeologi terutama yang menyimpan gambar cadas terancam rusak bila kebakaran tidak dipadamkan,”kata Arkeolog dari Griffith University Australia Basran Burhan merespons Karhutla di wilayah Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan, Jumat (16/10).

Sebagai arkeolog yang bertahun-tahun meneliti kawasan situs prasejarah di lokasi setempat, ia memperingatkan dampak destruktif dapat terjadi pada gambar cadas tersebut, dan menyebabkan kerusakan yang bersifat permanen dan tidak dapat dipulihkan.

Menurut dia, ada dua efek yang dapat merusak gambar hewan yang dilukis manusia purba berusia puluhan ribu tahun tersebut, seperti panas yang sangat ekstrim meski tidak memerlukan kontak langsung antara api dengan lukisan.

Baca juga: Polsek Sanga Desa Bagikan Sembako ke Warga Desa Terusan

“Tanpa ada api langsung yang menyentuh lukisan, itu bisa merusak lukisan. Karena dia mengubah temperatur di sekitar gambar yang bisa mempercepat proses pelapukan. Apalagi kalau sampai api itu menyentuh lukisannya,”tutur Basran.

Perubahan suhu yang drastis dapat menyebabkan ekspansi termal pada batuan gamping. Batuan selama ribuan tahun stabil, tiba-tiba mengalami tekanan mengakibatkan retakan mikro. Retakan itu dapat merambat hingga ke lapisan pigmen lukisan, menyebabkan pengelupasan yang masif.

Efek kedua adalah jelaga dan asap. Kebakaran hutan menghasilkan asap tebal yang kaya akan partikel karbon. Asap dari api itu, ungkap dia, akan membentuk jelaga di permukaan gambar gua dan akan menutupi lukisan dalam gua. Seperti selimut hitam menutupi detail lukisan.

“Itu dapat membuatnya kabur dan sulit diidentifikasi. Lukisannya juga akan tertutup dengan jelaga itu. Kita sulit melihat bentuk gambarnya seperti apa, dan sulit melihat warna asli dari pigmennya,”paparnya menjelaskan.

Hal mengkhawatirkan adalah fakta upaya konservasi selama ini dilakukan dengan sangat ketat menjadi sia-sia di hadapan kebakaran skala besar. Balai Pelestarian Kebudayaan Sulsel, bahkan telah menerapkan aturan ketat membatasi jumlah pengunjung maksimal lima orang dalam satu gua.(net)