Krsumsel.com, Indralaya – Proyek Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Sumatera Selatan di Ogan Ilir dikeluhkan petani, Proyek tersebut itu disebut asal jadi dan tidak berfungsi optimal.
Di saat musim kemarau petani menjerit kesulitan tanam padi, bantuan irigasi yang dijanjikan diklaim hanya jadi pajangan.
Hal itu diungkapkan petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Sumber Hijau di Desa Sejaro Sakti, Kecamatan Indralaya.
“Pada saat musim kemarau ini, petani mengalami kesulitan tanam padi. Memang ada bantuan JIAT, tapi tidak optimal. Dalam perencanaan, satu lokasi JIAT bisa mengairi 5 sampai 10 hektare sawah, Tapi kenyataan di lapangan jangankan 5 hektare, 1 hektare pun sulit,” keluh salah seorang petani bernama Mahmud, Selasa (6/10).
Fakta di lapangan lebih miris, Pipa distribusi yang baru dipasang banyak yang bocor, air tidak sampai ke petak sawah.
Akibatnya, petani terpaksa merogoh kocek pribadi jutaan rupiah untuk membuat sumur bor sendiri demi menyelamatkan sawahnya.
Baca juga: Status Tanggap Darurat Karhutla di Sidrap Hingga 1 November
Padahal lokasi sawah mereka tepat di sebelah bantuan proyek JIAT senilai Rp 1,5 miliar tersebut.
“Pipa distribusi banyak yang bocor. Saya buat sumur bor dengan dana pribadi untuk pengairan sawah,” ujar Mahmud.
Petani mendesak BBWS Sumatera Selatan dan perusahaan kontraktor proyek untuk turun langsung ke Desa Sejaro Sakti dan bertanggung jawab.
Petani juga meminta Aparat Penegak Hukum (APH) dan Inspektorat untuk mengaudit proyek JIAT tersebut.
“Jangan sampai proyek yang dibiayai uang negara untuk ketahanan pangan justru menjadi ladang bancakan dan menyengsarakan petani,” kata Mahmud dengan nada kesal.
Sementara perusahaan kontraktor proyek JIAT, PT Wijaya Karya mengonfirmasi sedang melakukan proses perbaikan pada mesin JIAT.
“Kerusakannya baru bulan kemarin. Sedang proses perbaikan. Mudah-mudahan minggu ini diganti (komponen mesin) yang baru, barangnya didatangkan dari Jakarta,” kata perwakilan PT Wijaya Karya bernama Dodi Sapriansyah.
Dilanjutkannya, kendala lain adalah tegangan listrik yang tidak stabil sehingga mengakibatkan kerusakan panel surya pada instalasi JIAT.
“Sudah kami sampaikan juga ke PLN untuk penambahan tegangan di daerah tersebut, supaya ke depan tidak terjadi kerusakan lagi pada panel,” jelas Dodi.(rul)














