Krsumsel.com, OKI — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Dalam sehari, petugas mencatat terdapat sekitar tiga hingga empat titik kebakaran yang harus ditangani.
Kabid II BPBD Kabupaten OKI Yudo Siswantoro mengatakan, salah satu kebakaran yang saat ini masih dalam penanganan terjadi di kawasan Perumahan Cetak.
“Sekarang apinya lagi besar, sudah ada dua tim yang turun ke sana,” kata Yudo.
Menurutnya, BPBD OKI memiliki 35 personel satgas yang terus dikerahkan untuk menangani kebakaran di berbagai wilayah. Keterbatasan jumlah personel membuat penanganan karhutla tidak dapat dilakukan sendiri oleh BPBD.
“Kita tidak bisa meng-cover seluruh OKI karena orang terbatas. Karena itu kita berkolaborasi melibatkan pemerintah daerah, TNI, Polri, masyarakat, dan perusahaan,” ujarnya.
Yudo menyebut, kondisi cuaca yang panas dan kemarau panjang menjadi salah satu faktor yang memperbesar risiko terjadinya kebakaran. Ia mengatakan, sejak Agustus wilayah OKI minim hujan.
“Sudah dari Agustus itu tidak ada hujan. Yang hujan lokal kemarin bukan hujan alami, tapi hujan dari OMC,” katanya.
BPBD OKI, lanjut Yudo, terus melakukan upaya penanganan di lapangan. Bahkan, petugas tetap dikerahkan pada Sabtu dan Minggu untuk memantau serta menangani titik-titik kebakaran.
“Kami terus maksimal. Sabtu Minggu juga kami masih ke lapangan. Seperti hari Minggu kemarin itu ke Pangkalan Lampam,” ujarnya.
Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan karhutla, lanjut Yudo, adalah kebakaran di lahan gambut. Api yang terlihat di permukaan terkadang sudah berhasil dipadamkan, namun bara api masih bertahan di bagian bawah tanah.
Baca juga: Gubernur Sumsel Apresiasi Capaian Kabupaten Muba di Hari Jadi ke 70
“Di daerah gambut, dipadamkan di sini, di sana ada lagi api. Atasnya padam, ternyata bawahnya masih ada api,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat proses pemadaman membutuhkan waktu dan peralatan khusus. Untuk wilayah yang memiliki sumber air cukup dekat, petugas dapat menggunakan selang dan mesin pompa. Namun, untuk lokasi yang jauh dari sumber air, diperlukan dukungan water bombing.
“Apalagi sekarang kemarau sudah lama, jarak api dengan sumber air itu sangat jauh, kadang sampai satu kilometer. Yang jauh-jauh itu makanya memakai water bombing, kalau yang dekat kita pakai selang dan mesin sudah bisa,” terangnya.
Yudo juga menyoroti kondisi di Desa Menang Raya, Kecamatan Pedamaran. Menurutnya, kebakaran di wilayah tersebut cukup berbahaya karena terjadi di lahan gambut dan lokasinya berdekatan dengan permukiman warga.
“Di Desa Menang Raya, Kecamatan Pedamaran, itu sangat bahaya kebakarannya di lahan gambut, tapi dekat dengan permukiman warga,” katanya.
Terkait kondisi terkini, Yudo mengatakan jumlah titik api masih cukup tinggi. Namun, dibandingkan beberapa hari sebelumnya, kondisi tersebut mulai menunjukkan penurunan.
“Untuk titik api masih cukup tinggi, tapi dibandingkan dengan beberapa hari yang lalu sudah sedikit mendingan,” ungkapnya.
Sementara itu, mengenai potensi hujan, Yudo menyebut prediksi hujan diperkirakan mulai terjadi pada akhir Oktober. Namun, pihaknya belum mengetahui secara pasti intensitas hujan yang akan turun.
Kondisi kemarau panjang tersebut membuat BPBD bersama pemerintah daerah, TNI-Polri, masyarakat, serta perusahaan terus melakukan upaya bersama untuk mengantisipasi dan menangani karhutla di wilayah OKI.(Elisa)















