PALEMBANG, Krsumsel.com – Setelah dilaporkan hilang selama tiga hari, seorang pria dengan gangguan jiwa (ODGJ) bernama Yahya Romadhon (27) ditemukan meninggal dunia dengan kondisi tubuh penuh luka lebam dan lecet. Keluarga korban menilai kematian tersebut tidak wajar dan melaporkannya ke pihak kepolisian.
Kakak kandung korban, Ginanjar Suprayogi (40), warga Jalan Sungai Rengit, Kelurahan Air Batu/Air Baru, Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin, menuturkan adiknya hilang sejak Senin (9/2) sekitar pukul 17.00 WIB.
“Sejak Senin dia pergi dan tidak pulang ke rumah. Anak saya sempat melihat korban berjalan kaki ke arah jalan lintas. Kami sudah mencari, tapi tidak ditemukan,” ujar Ginanjar, Jumat (13/2).
Pada Rabu (11/2) sekitar pukul 18.00 WIB, Ginanjar mendapat informasi bahwa korban berada di kawasan Pulau Rimau, Kabupaten Banyuasin. Ia kemudian meminta rekannya untuk memastikan kabar tersebut.
“Teman saya mengirim foto, dan ternyata benar itu adik saya. Saat itu sudah dalam keadaan meninggal dunia,” ungkapnya.
Keluarga lalu mendatangi Masjid Nurul Huda di Desa Sumber, Kecamatan Pulau Rimau, Kamis (12/2) dini hari. Saat tiba di lokasi, jenazah disebut telah berada di dalam keranda.
“Tubuhnya masih basah dan penuh lumpur. Kerandanya ditutup banner warna putih dan dijaga dua orang pria,” kata Ginanjar.
Setelah dibawa pulang dan dibersihkan, keluarga menemukan sejumlah luka di tubuh korban. Di antaranya benjolan di bagian belakang kepala, lebam di perut dan punggung, luka lecet di paha, siku kiri diduga patah, serta luka menganga di betis kanan.
“Kami menduga ada kekerasan yang dialami korban karena kondisinya tidak wajar,” tegasnya.
Ginanjar menjelaskan, adiknya mengalami depresi berat sejak 2023 dan menjalani rawat jalan. Kondisi itu bermula setelah korban diduga menjadi korban pembegalan dan kepalanya terbentur aspal.
Atas kejanggalan tersebut, Ginanjar resmi membuat laporan di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Sumatera Selatan, Jumat (13/2), didampingi tim penasihat hukum dari LBH Bima Sakti.
Baca juga: Antisipasi Pudar di Dunia Entertainment, Dinar Candy Punya 2 Usaha
Direktur LBH Bima Sakti, M. Novel Suwa.SH, didampingi wakilnya.Dr. Conie Pania Putri SH menyatakan pihaknya melaporkan dugaan penganiayaan yang mengakibatkan korban meninggal dunia.
“Menurut kami korban meninggal tidak wajar. Tubuhnya penuh luka-luka,” ujar Novel.
Pihak keluarga juga menyoroti beredarnya foto-foto korban saat berada di area perkebunan kelapa sawit milik PT Mitra Aneka Rezeki (MAR), dikelilingi sejumlah pria yang diduga pekerja kebun.
“Ada foto yang memperlihatkan korban seakan dipaksa berdiri. Ada juga foto saat korban berada di rumah warga dan terlihat masih baik-baik saja,” jelasnya.
Novel menambahkan, keluarga menerima informasi bahwa korban meninggal dunia di area perkebunan sawit tersebut dan kemudian dibawa ke masjid untuk dimakamkan.
“Seharusnya jika ada yang meninggal dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan medis, bukan langsung dimakamkan. Kami berharap kasus ini diusut tuntas agar keluarga mendapat keadilan,” tegasnya.
Sementara itu, Conie Pania Putri menyebut pihaknya memegang surat keterangan dari Puskesmas Sukajadi yang menyatakan korban mengalami depresi berat.
“Dengan kondisi tersebut, kecil kemungkinan korban melakukan tindakan kriminal atau perbuatan yang merugikan pihak perusahaan,” ujarnya.
Terpisah, Kapolsek Pulau Rimau Iptu Yusri Meryansyah membenarkan adanya penemuan mayat tersebut. Ia menyebut korban telah dijemput pihak keluarga.
“Korban ditemukan tergeletak di kebun sawit dekat PT MAR. Dugaan sementara kemungkinan kelelahan karena berjalan jauh,” pungkasnya.(Kiki)















