Petani Tambak di Lhokseumawe Kembangkan Budidaya Polikultur

oleh

Banda Aceh, KRsumsel.com – Petani tambak di Kota Lhokseumawe Aceh mengembangkan sektor budidaya perikanan dengan menggunakan inovasi budidaya polikultur dan pengembangan pakan alternatif lokal.

“Program ini sejalan dengan visi pembangunan Kota Lhokseumawe dalam memperkuat sektor perikanan budi daya,”kata Staf Ahli Wali Kota Lhokseumawe Bukhari di Gampong Padang Sakti Lhokseumawe Aceh, Minggu (24/8).

Pernyataan itu ia sampaikan di sela-sela menghadiri tebar benih tambak polikultur program inovasi budi daya polikultur dan pengembangan pakan alternatif berbasis limbah lokal yang dikembangkan Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) melalui Integrated Terminal (IT) Lhokseumawe dalam mendukung kemandirian sektor perikanan budi daya di Kota Lhokseumawe.

“Kami menyampaikan apresiasi kepada Pertamina atas inisiatif tersebut dan berharap kelompok binaan dapat berkembang dan berkelanjutan sehingga menjadi percontohan bagi petambak lainnya,”katanya.

Integrated Terminal Manager IT Lhokseumawe Ari Yunanto mengatakan, program inovasi budi daya polikultur dan pengembangan pakan alternatif berbasis limbah lokal, juga sejalan dengan Program Unggulan Wali Kota Lhokseumawe dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kota (RPJMK) 2025–2029 terkait pemberdayaan sektor perikanan.

“Pertamina berkomitmen untuk terus mendukung masyarakat dalam membangun kemandirian ekonomi,”katanya.

Ia mengatakan, mereka berharap program tersebut dapat menjadikan sektor perikanan di Lhokseumawe sebagai pilar yang memperkuat kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem.

Lebih lanjut ia mengatakan, lokasi tersebut juga dirancang sebagai learning center bagi petambak maupun akademisi. Kolaborasi multi pihak adalah kunci agar program berkelanjutan.

Baca juga: Band Radja Hibur Pengunjung F1 Powerboat 2025 di Toba

Pada tahap awal 2024, Pertamina menyalurkan 200.000 benur udang vaname, sarana pendukung budi daya, serta pendampingan pembuatan pakan mandiri berbasis limbah organik lokal.

Langkah tersebut terbukti mampu meningkatkan pendapatan petambak sekaligus menekan biaya produksi yang sebelumnya terbebani oleh harga pakan komersial.

Pada 2025, inovasi berlanjut dengan menghadirkan sistem budi daya polikultur, yakni penggabungan udang vaname dengan ikan bandeng. Kegiatan tersebut menebar sebanyak 3.000 benur bandeng di tambak semi-intensif.

Pola tersebut diharapkan memperkuat diversifikasi hasil panen, meningkatkan pendapatan petambak, sekaligus memberi manfaat ekologis dengan mengurangi pertumbuhan klekap hijau berlebih yang berdampak pada penurunan kualitas air.

“Keberhasilan program ini tidak lepas dari kolaborasi multi pihak,”katanya.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Fahrougi Andriani Sumampouw mengatakan, inisiatif tersebut merupakan wujud nyata komitmen Pertamina terhadap pembangunan berkelanjutan.

“Kami menyadari bahwa sektor perikanan adalah salah satu penggerak ekonomi masyarakat pesisir. Karena itu, Pertamina tidak hanya hadir melalui distribusi energi, tetapi juga lewat program tanggung jawab sosial yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,”katanya.

Ia mengatakan, program tersebut sejalan dengan target pembangunan berkelanjutan, khususnya mendukung pencapaian SDG 1 (Tanpa Kemiskinan), SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDG 14 (Ekosistem Laut).(net)