OKI, KRSUMSEL.COM – Peluncuran “Lapor Bup” sebuah kanal pengaduan masyarakat yang kini bisa diakses langsung melalui WhatsApp (WA) di nomor 0858 4031 9110, yang baru saja diluncurkan Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) yakni Diskominfo menuai sorotan.
Pasalnya menurut masyarakat, pemerintahan Bupati OKI Muchendi Mahzareki dan Wabup Supriyanto tidak perlu terbuai dengan bayang pemerintah kelam yang banyak aplikasi tapi semuanya mangkrak.
“Banyak, aplikasi tapi ujung-ujungnya mangkrak,” tegas Ketua Lembaga Aliansi Indonesia Kabupaten OKI, Elvis kepada KRSUMSEL.COM, Selasa (15/7/2025).

Ia menilai, adanya “Lapor Bup” di era sekarang justru tidak tepat dimana masyarakat bisa langsung memberikan informasi melalui medsos dan media online, sudah viral saja belum tentu ada tindak lanjut apalagi laporan bersifat tertutup, sindirnya.
Tentu, lanjutnya tak banyak masyarakat yang mengerti apa yang dimaksud tersebut, itu hanya acara seremonial.
“Saya yakin pasti mangkrak,” tegasnya.
Lanjutnya, di era presiden Jokowi saja sempat geram dengan kelakuan instansi pemerintahan. Kegeraman itu ia sampaikan terkait kegilaan instansi pemerintah dalam membuat aplikasi.
Seperti halnya pelayanan yang sempat dibuat aplikasi di era Iskandar SE saat bupati OKI yakni SE-PATEN, SEKLIK, Teknojek, namun hingga kini hilang.
Untuk itu, ia meminta stop hal-hal yang justru akan merusak citra Bupati OKI Muchendi Mahzareki, yang kini sudah dekat dengan masyarakat.
Sementara itu, Salah Seorang Warga Desa Muara Baru, yang meminta namanya dirahasiakan ketika diwawancarai terkait WA “Lapor Bup” dirinya mengaku tidak tahu, bahkan saat diarahkan untuk mencoba dirinya tetap tidak mengerti dengan formulir yang dinilai rumit.
Aplikasi Mangkrak
Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kurangnya pemeliharaan, perubahan kebijakan, atau kurangnya sosialisasi kepada pengguna.
Beberapa contoh aplikasi pelayanan publik yang mungkin mengalami kendala atau bahkan mangkrak antara lain:
1. Aplikasi yang tidak terintegrasi:
Aplikasi yang dibuat secara terpisah oleh berbagai instansi seringkali tidak terhubung satu sama lain, sehingga menyulitkan pengguna untuk mengakses informasi atau layanan yang mereka butuhkan.
2. Aplikasi yang tidak ramah pengguna:
Desain aplikasi yang rumit atau fitur yang tidak intuitif dapat membuat pengguna enggan untuk menggunakannya, bahkan jika aplikasi tersebut menawarkan layanan yang bermanfaat.
3. Aplikasi yang tidak diperbarui:
Jika aplikasi tidak mendapatkan pembaruan rutin, aplikasi tersebut bisa menjadi ketinggalan zaman dan tidak kompatibel dengan perangkat atau sistem operasi terbaru, yang pada akhirnya dapat menyebabkan aplikasi tersebut tidak berfungsi dengan baik atau bahkan berhenti beroperasi.
4. Kurangnya sosialisasi:
Jika pengguna tidak mengetahui keberadaan atau cara menggunakan aplikasi, mereka tidak akan menggunakannya, meskipun aplikasi tersebut menawarkan layanan yang bermanfaat.
5. Masalah teknis:
Terkadang, masalah teknis seperti server down atau bug dalam aplikasi dapat menyebabkan aplikasi tidak dapat diakses atau digunakan untuk sementara waktu, dan jika masalah ini tidak segera diatasi, dapat menyebabkan aplikasi tersebut menjadi mangkrak. (ata)




















