Asal Usul Munculnya Air Zam-zam

oleh -696 views

Setelah membawa Siti Hajar dan putranya, Nabi Ismail ke Mekkah, Nabi Ibrahim kemudian berdoa kepada Allah SWT, “Ya Allah, aku telah tempatkan istri dan keturunanku di dekat rumah-Mu (Baitullah) dilembah yang sunyi dari tanaman dan manusia, agar mereka mendirikan shalat dan beribadah kepadaMu, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rizki dari buah-buahan yang lezat, mudah-mudahan mereka bersyukur kepadaMu.

Setelah memanjatkan do‘a, Nabi Ibrahim kembali ke Palestina untuk hidup bersama Siti Sarah. Dengan menahan rasa sedih, Ia pasrahkan semuanya kepada Allah. Siti Hajar dan Ismail ditinggalkannya hidup di lembah padang pasir yang sunyi di antara bukit-bukit batu yang kokoh berbekal iman dan taqwa serta persediaan ala kadarnya. Seiring waktu, perbekalanpun akhirnya menipis dan habis sama sekali. Tangis pilu bayi dan perihnya perut yang kosong, tidak menghalangi Siti Hajar untuk berdo’a dan berusaha mencari karunia Allah.

Munculnya Air Zamzam
Siti Hajar mondar-mandir sembari berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwa tidak kurang tujuh kali, namun karunia Allah yang diharapkan berupa air untuk sekedar membasahi tenggorokan yang kering, tidak juga ia dapatkan. Maka bersujudlah ia kepada Allah sembari memohon karuniaNya. Dan Allah kemudian menunjukkan karuniaNya. Melalui kaki mungil Ismail, tiba-tiba memancarlah air dari dalam tanah. Itulah air zam-zam yang kita kenal sekarang.

Riwayat lain menyebutkan bahwa saat Siti Hajar mondar mandir antara Shafa dan Marwa, pada saat lari yang ketujuh dia mendengar suara orang yang memanggil-manggil, padahal di sekitar tempat itu tidak ada orang kecuali ia dan Ismail. Siti Hajar pun berseru, “Aku dengar suaramu, tolonglah aku kalau engkau orang baik”. Maka muncullah Malaikat Jibril yang kemudian menghentakkan tumitnya di tanah, lalu memancarlah air di tempat itu. Dengan tergesa-gesa, Siti Hajar kemudian membendungi air dengan tanah dan pasir agar tidak mengalir kemana-mana. Maka disebutlah air itu dengan nama “Zamzam”, artinya air yang gemercik tapi terkumpul.

Air zamzam sengaja diberikan oleh Allah mula-mula kepada Ismail dan Ibunya Siti Hajar, kemudian oleh mereka berdua diberikan kepada siapa saja yang memerlukan. Ini terbukti setelah beberapa hari Siti Hajar dan anaknya tinggal di dekat air itu, datanglah kepadanya dua orang dari suku Jurhum yang mewakili bangsanya untuk berkenalan sekaligus meminta izin untuk memanfaatkan air. Dengan senang hati diterimalah mereka dan pada akhirnya jadilah sekumpulan masyarakat baru di sekitar mata air zamzam hingga menjadi sebuah kota yang amat ramai.

Bagi para jemaah haji, minum air zamzam sehabis thawaf mengingatkan akan besarnya nikmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya yang mengalami kesulitan, sekaligus mensyukuri nikmat Allah yang amat besar di bumi Makkah yang sangat tandus, serta menanamkan keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan Maha Pemurah, Maha Kaya dan Maha Mendengar do’a orang yang berdo’a kepada-Nya.

Faedah-Faedah Meminum Air Zamzam
Bagi umat Islam, air zamzam adalah air yang diberkahi dan disucikan. Air yang mengalir dari sumur zamzam ini juga dianggap sebagai air paling bersih dan paling murni di bumi karena tidak mengandung jamur, bakteri, virus, kuman, lumut, atau jenis kotoran lainnya. Air zam-zam juga diketahui kaya akan mineral yang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Tidak heran para jemaah haji berlomba-lomba minum air zamzam serta menjadikannya oleh-oleh untuk dibawa pulang.

“Sejarah Asal Usul Air Zam-zam dan Faedah-Faedah Meminumnya” src=”https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhEHuDAlPVQj4VxI1Ro4M7Hbz5In-Fw5Xs4CsT-REV2AJODnj2lxACPpIUBCEZmnGItpG_2NHtswgY_soFUrvwO4MnSOTjI2pkmrWd6zSEnQb8b77BVarbz8mflwOTdQmL5F7rpw4z-9xKmbfbT-_Iwvg0lr_w9J6wMoEV901deAfXzgR5kvCfNNpegRA/s640/air%20zamzam.jpg” alt=”botol air zamzam” width=”640″ height=”402″ border=”0″ data-original-height=”390″ data-original-width=”622″ />

Di samping hal itu, air zamzam memang diketahui memiliki banyak manfaat dan faedah bagi siapapun yang meminumnya. Diantara faedah-faedah meminum air zamzam adalah sebagai berikut:

Syaba‘ah, artinya kenyang, karena setelah minum air zamzam menjadi kenyang.
Murwiyah, artinya segar, karena air zamzam dapat menghilangkan rasa dahaga dan menjadi segar.
Nafi‘ah, artinya bermanfaat, karena memang sangat banyak manfaatnya. Diantaranya yaitu menguatkan hati dan menenangkan rasa takut.
Afi’ah, artinya sehat, karena air zamzam jika diminum dapat menangkal atau menolak penyakit.
Maimunah, artinya barokah, karena keberkahan air zamzam sangat dirasakan.
Barrah, artinya memiliki kebaikan, karena air zamzam sangat baik bagi orang yang meminumnya untuk memperoleh keberkahan.
Madhmunah, artinya bagus, karena indahnya air zamzam maka Allah melarang satu kaum dari bangsa Arab tinggal di sekitarnya karena berbuat maksiat.
Kafiyah, artinya mencukupi, karena orang yang minum zamzam akan merasa cukup atau puas.
Mu’dzibah, artinya mencegah rasa dahaga karena air zamzam mengandung rasa antara manis dan tawar.
Syifa Saqamin, artinya menyembuhkan penyakit, karena air zamzam dapat menjadi obat dari penyakit yang diderita seseorang.
Tho’amu Thu’min, artinya mengenyangkan, karena meminum air zamzam dapat menghasilkan rasa kenyang.
Hazmatu Jibril, artinya injakan atau tekanan tumit malaikat Jibril. Disebut demikian karena air zamzam keluar dengan perantaraan tumit kaki Jibril.
Maghfurah, artinya ampunan, karena orang yang meminumnya diampuni dosanya.
Di dalam hadits juga dijelaskan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
Sebaik-baik air di muka bumi adalah air zam-zam. Air tersebut bisa menjadi makanan yang mengenyangkan dan bisa sebagai obat penyakit”. (HR. Muslim)
Air zamzam bagi yang diniatkan ketika meminumnya, jika engkau minum dengan maksud agar sembuh dari penyakitmu, maka Allah menyembuhkannya. Jika engkau minum dengan maksud agar engkau merasa kenyang, maka Allah mengenyangkan engkau. Jika engkau meminumnya agar hilang rasa hausmu maka Allah akan menghilangkan dahagamu itu. la adalah air tekanan tumit Jibril, minuman dari Allah untuk Ismail.” (HR. Daruqutni, Ahmad, Ibnu Majah, dari Ibnu Abbas)

KETERANGAN : Bagi yang ingin menayangkan ulang harap lampirkan Link hak cipta Sumber berita ini