Makanya, lanjut dia, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi meminta kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan untuk bergerak secara masif dalam program Surabaya Mendongeng itu.
“Jadi, Surabaya Mendongeng ini betul-betul kami masifkan dan dilakukan secara serentak di seluruh wilayah Surabaya,” ujarnya.
Musdiq juga menjelaskan di Surabaya ada 532 TBM yang terdiri atas dua perpustakaan pusat dan 530 TBM. Lokasi TBM itu berada di fasilitas-fasilitas publik dan permukiman warga, mulai dari Balai RI, kantor kelurahan, taman-taman, dan tempat lainnya.
“Lokasi TBM itu secara fisik banyak yang tidak memenuhi syarat, karena bercampur dengan yang lainnya. Makanya, kita buat TBM itu senyaman mungkin, bahkan banyak yang sudah kami mural, sehingga pengunjung bisa merasa nyaman dan betah di TBM itu,” kata dia.
Meski begitu, Musdiq juga memastikan bahwa yang dinilai dalam kompetisi jenama TBM itu bukan hanya perbaikan atau kondisi fisik TBM. Lebih dari pada itu, yang dinilai adalah administrasinya, aktivitasnya, keterlibatan TBM di tengah-tengah masyarakat dan juga menghasilkan bibit-bibit penulis atau tidak.
Kompetisi tersebut sudah dimulai sejak 2018, 2019, dan 2020 sempat terhenti karena pandemi, kemudian pada 2021 dilanjutkan lagi.
Adapun pesertanya tahun ini sebenarnya 85 TBM, tapi karena masih pandemi, ternyata banyak yang belum siap, sehingga hanya tersisa 62 TBM. Dari 62 TBM itu dipilih enam kategori terbaik, yang mana masing-masing kategori dipilih tiga terbaik.
“Semoga dengan cara ini TBM di Surabaya bisa terus berkembang,” katanya. (Anjas)














