Di sisi lain, Yusron mengakui, tantangan yang dihadapi saat ini adalah keterbatasan kemampuan produksi pengrajin masih terbatas. Hal itu tentu berdampak maraknya tenun-tenun yang dibuat dengan teknik printing.
“Dalam kondisi itu tidak bisa kita hindari, tapi kita yakin ke depan jika pengrajin sudah bisa meningkatkan produksi dengan ketersediaan bahan baku mencukupi, kita yakin secara perlahan tenun-tenun printing akan hilang,” katanya.
Lebih jauh Yusron mengatakan pada prinsipnya Dispar NTB siap bangkit dan pulih di tengah pandemi COVID-19 untuk bergerak dan promosi pariwisata. Termasuk mewujudkan Provinsi NTB menjadi pusat busana muslim nasional.
“Insya Allah, pada kegiatan Ramadan Fair 2022 bisa menjadikan NTB sebagai barometer desainer-desainer busana muslim berbasis tenun lokal,” katanya menambahkan.(Anjas)














