Bambang Soesatyo kasih pesan kebangsaan dalam vlog dengan Ari Lasso

oleh
001527000_1579239284-Ari_Lasso_IG_4

Jakarta, KRsumsel.com – Ketua MPR, Bambang Soesatyo, bersama penyanyi Ari Lasso membuat vlog (blog video) kebangsaan menyosialisasikan Empat Pilar MPR kepada 1,15 juta subscriber YouTube dan 1,7 juta pengikut instagram mantan vokalis grup band Dewa 19 itu.

Kolaborasi pemilik akun YouTube Bamsoet Channel dan Ari Lasso TV ini menekankan pentingnya toleransi dalam berbagai dimensi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, karena tanpa toleransi, tak mungkin Indonesia bisa merdeka pada 17 Agustus 1945. Itu pesan kebangsaan dari kerja bareng politisi dan seniman itu.

“Dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, para pendiri bangsa yang tergabung dalam Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) maupun Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, terdiri dari beragam etnis dan agama. Merekalah yang melahirkan dasar negara, Pancasila, pada 1 Juni 1945,” ujar Soesatyo, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Minggu.

Hal itu dia sampaikan dalam tayangan di akun YouTube Bamsoet Channel, nge-vlog bersama Ari Lasso, di Jakarta, Sabtu (29/8).

Soesatyo menuturkan, BPUPKI kemudian dibubarkan pada 7 Agustus 1945. Saat itu juga dibentuk PPKI yang berjumlah 21 orang, terdiri dari 12 orang etnis Jawa, tiga orang Sumatera, dua orang Sulawesi, satu orang Kalimantan, satu orang Nusa Tenggara, satu orang Maluku, dan satu orang Tionghoa.

Merekalah, kata dia, yang menetapkan UUD 1945 sebagai konstitusi negara, menyusun pemerintahan pusat dan daerah, hingga merancang lembaga tinggi dan kelengkapan negara.

“Jauh sebelum kehadiran BPUPKI maupun PPKI, bangsa Indonesia secara bergotong-royong tanpa mengenal perbedaan suku maupun agama, juga telah berjuang mengorbankan harta dan nyawa melawan penjajah. Menandakan bahwa proklamasi kemerdekaan tak akan terjadi tanpa adanya toleransi dari setiap warga negara,” kata dia.

Lebih lanjut, dia menjelaskan, hilangnya semangat toleransi dalam berbagai sendi kehidupan akan membuat bangsa Indonesia lemah. Oleh karena itu, dia berpesan agar setiap anak bangsa tidak kehilangan jiwa toleransi.

Ia mengatakan, Presiden Joko Widodo dalam pidato di Sidang Tahunan MPR telah menegaskan agar jangan ada yang merasa paling agamis maupun Pancasilais sendiri, serta merasa paling benar dan memaksakan kehendak. Sikap seperti itu biasanya justru malah mendatangkan perpecahan.

“Perdamaian dan kesatuan bangsa hanya akan tercapai jika setiap anak bangsa mau membuka diri terhadap berbagai perbedaan yang ada. Jadikan perbedaan sebagai rahmat dari Tuhan YME. Bukan sebagai sumber konflik perpecahan,” ucap dia.(anjas)