» » » » Kemen PUPR Harapkan Kesepakatan Antara Petani

Palembang, KRSumsel.Com-Konflik yang terjadi di Kabupaten Musi Rawas dan Kota Lubuk Linggau Sumatera Selatan di Dareah Irigasi Kelingi Tugumulyo dalam hal ini Kementrian PUR terus berupaya dalam mencapai kesepakatan antara petani sawah dan pemilik  kolam ikan yang meniliki luas area kurang lebih 1000 hektar sebagai kewenangan pusat yang sangat eraLegis dalam mendukung program ketahanan pangan.

Direktur Irigasi dan Sawit Ditjen Sumber Daya Air Kementrian PUPR Mohammad Mazid, mengukapka, Komflik yang terjadi saat ada kepentingan penerima manfaat air irigasi dan ini memang sduah terjadi sejak puluhan tahun lalu, sehingga menjadi permasalahan sosial.

"Kita sangat membutuhkan dukungan dan pemahaman semua pihak terutama pemilik kolam ikan dan petani sawah yang harus ditagani harus  ada kesepakatan komprehensif secara sosial. Sebetulnya harus seperti apa ketika solusi komprehensif sosiol ini bisa kita peroleh maka akan kami tindak lanjuti dengan solusi teknis kita akan melakukan penyiapan desain teknis pada daerah irigasi Kelingi Tugu mulgo itu dengan harapan segera kita lakukan kegiatan rehabilitasi jaringan daerah irigasi tersebut,"Ungkap Mazid

Mazid manambahkan, Akibat tidak ada singroniaasi pemanfaatan air tersebut memberikan indikasi terutama adamya daerah layanan irigasi yang memberikan dampak kekeringan pada setiap musim lebih kurang 3000 hekta,  sehingga perlu diselesaikan secara bersama.


"Dalam hal ini pemrintah harus adil dalam melayani kepentingan masyarakat dalam pelayanan masyarakat sudah barang tentu harus memenuhi aturan aturan yang ada dari mulai kesepakatan tentang Pulau operasi yang dijalankan oleh Balai yang disesuaikan dengan ketersedian air dan sebagainya terutama adalah menyangkut tenLang masa tanam dari masing-masing jenis pemanfaatan itu.

Kita butuh sinkronisasi karena ketika semuanga paradoksal artinya itu berlawanan antar satu kepentingan dengan yang lain ini kan akan sulit. di dalam pengelolaan. Jadi pada prinsipnya inilah merupakan momen untuk kita bahas bersama permasalahan tersebut,"tambahnya.

Sementara Kepala BBWSS VIII Birendjana menyapaikan,  Dalam hal ini akan tetap berkooordinasi dalam penyelesaian konflik yang terjadi selama ini dan akan mengkaji serta sejumlah alternatif dalam merumuskan solusi tehnik konflik irigasi Kelingi Tuggumulyo.

"Yang pasti pada intinya dari beberapa alternatif solusi yang disiapkan semua bermuara pada pengembalian fungsi irigasi agar tetep dapat dimanfaatkan secara otimal untuk menjadi ketahanan pangan,"kata biren.

Dalam pengoptimalan pengembalian untuk tetap menjadi ketahanan pangan bagi masyarakat sekitar biren menjelaskan akan mengembalikan air yang masuk kolam kembali salururan primer atau skunder. pertama mungkin dengan membuat lubang sehingha air dapat mengalir secara gravitasi dan yang kedua dengan sistem pemompaan atau ketiga dengan mengubah  menjadi kolam air tenang dengan sistem tambahan.

" Pada bulan Juni mendatang akan  akan berkoordinasi dengan pemeritah kota Lubuk Linggau dan akan dikoordinir oleh sekda setempat,  kami berharap saat pertemuan ada progres yang signifikan, dengan melibatkan pihat terkait dalam menentukan solusi teknis sepeti pihak komsultan, OPD terkait serta perwakilan dari petani sawah dan petani kolam ikan, "tambah biren.(yuyun)

About Redaksi Krsumsel

Terimakasih telah berkunjung di krsumsel.com.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply