» » » IKAPATI Yogyakarta Gelar Seminar Ancaman Media Streaming

Yogyakarta, Ikatan Keluarga Pantai Timur (IKAPATI) Yogyakarta bersama Pengurus Wilayah Gerakan Pemuda Islam (PW GPI), Jaringan Pemuda Nusantara (JPN) dan Lentera Institute Indonesia (LII) menggelar Seminar Publik mengambil tema “Membendung Penggunaan TV Streaming Sebagai Alat Propaganda Negatif Menjelang Pilpres 2019” di Teatrikal Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu Siang (27/02/2019).

Forum berjalan meriah yang dihadiri mahasiswa lintas kampus yang ada Kota Pelajar ini. Hadir sebagai pembicara diantaranya Nanang Mizwar Hasyim, dosen komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Syukron Arif Muttaqien, Wartawan Radar Yogyakarta, dan Abulaka Archaida Pemimpin Umum Bersatunews.com.

Ahmad Mukhlisin Ketua Panitia juga Penanggung Jawab Sementara (PJS) IKAPATI Yogyakarta menyampaikan dalam sambutannya, harapan dari panitia penyelenggara dengan adanya seminar ini, kita semua dapat menggunakan media dengan bijak dan terhindar dari konten-konten negatif baik sebagai pihak yang memproduksi maupun yang hanya sekedar membagikan ke media sosial.

“Adanya kegiatan ini bukan hanya sekedar eksistensi organisasi, lebih dari itu ada harapan besar bagi kami untuk kita semua yang hadir dalam acara ini, yaitu memiliki kesadaran bahwa yang terjadi sekarang di dunia online lebih banyak digunakan alat propaganda negatif. Oleh karena itu lewat seminar ini, paling tidak kita mendapatkan pengetahuan dasar agar terhindar dari semua itu. Selanjutnya, tujuan kami meneyelenggarakan seminar ini adalah untuk mengenalkan Ikatan Keluarga Pantai Timur  (IKAPATI ) yang ada di Yogyakarta yang baru saja berdiri,” jelas Mukhlisin dalam sambutannya.

Nanang Mizwar memaparkan bahwa kemajuan teknologi informasi adalah suatu keniscayaan yang harus kita terima dengan pemanfaatan sesuai kebutuhan masiang-masing. Perkembangan teknologi telah mengantarkan manusia pada perkembangan teknik atau cara manusia melakukan komunikasi dengan sesamanya untuk memenuhi kebutuhan manusia berdasarkan pada motivasi individunya. Salah satunya adalah hadirnya internet yang telah memberikan pengaruh terhadap perubahan  yang signifikan (revolusi komunikasi) dari first media age menuju second media age yang dalam fase ini muncullah istilah cyber space sebagai saran interaksi baru dalam berkomunikasi.

“Dalam konteks revolusi media komunikasi, fenomena media streaming telah memberikan pemahaman baru dalam perubahan cara pandang eksistensi media massa yang dalam pemahaman lama (broadcasting era) bersifat satu arah dan dipengaruhi oleh keberadaan lembaga menjadi bersifat interaktif yang bersifat individual. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan oleh David Holmes bahwa keberadaan teknologi komunikasi baru (internet) telah memberi pengaruh terhadap karakteristik media massa. Diantaranya adalah dari yang sifatnya satu arah menjadi interaktif. Dari yang dikendalikan oleh lembaga menjadi individual. Dari peran gate keeper yang bersifat aktif dan melembaga menjadi bersifat personal. Dari yang dipengaruhi oleh aturan kekuasaan menjadi independen dan mandiri,” urai dosen muda UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu.

Lanjut Nanang, Sungguh pun era baru (cyber) yang telah melahirkan media-media komunikasi baru mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap karakteristik media massa, tapi pada dasarnya proses revolusi yang ada masih belum bisa menghilangkan fungsi-fungsi media tersebut. Adapun salah satunya adalah sebagai alat persuasif dan propaganda untuk mempengaruhi presepsi khalayak.  Atas kenyataan tersebut dan didasarkan atas tema dialog publik ini yaitu "membendung penggunaan streaming sebagai alat propaganda negatif"  kiranya dalam mencari upaya untuk mencari solusi atas permasalahan tersebut saya mencoba membedahnya lewat dua prespektif yaitu seperti apa eksistensi kebenaran media dan seperti apa posisioning media massa dalam proses komunikasi.

“Sungguh pun demikian, upaya konstruksi kebenaran yang dilakukan oleh media massa bukanlah merupakan kebohongan. Akan tetapi merupakan proses penyajian data-data yang dihasilkan dari realitas sosial atau peristiwa yang terjadi. Senada dengan hal tersebut Redi Panuju dalam bukunya berjudul "relasi kuasa" menjelaskan bahwa pada prinsipnya peran media dalam pembentukan opini public adalah memaparkan data-data dengan narasi media massa itu sendiri, selebihnya opini yang muncul merupakan hasil pemaknaan khalayak atas isi pesan tersebut bukan media massa,” ungkap Nanang dengan semangat.

Berbeda dengan Syukron Arif Muttaqien, menyampaikan berbagai hal yang ada kaitannya dengan dunia wartawan.  Terkait dengan media, ada wartawan, jurnalis, ada di dalamnya perusahaan media, dan di perusahaan media dan tidak hanya wartawannya. Media dengan jurnalis ini, terkadang harus sama atau ada perbedaan. Banyak fenomena yang sering mengaku wartawan, kenyataan yang terjadi seperti itu, kerajaanya cuman dari dinas ke dinas bawa bulpen bawa block note  ruang dinas. Hal ini juga harus menjadi perhatian kita semua agar bertindak tegas terhadap orang yang sering menyalahgunakan profesi wartawan.

“Bagi saya, kalau kita bicara streaming, pertanyaannya streaming itu masuk produk jurnalistik tidak, terus youtube juga tidak masukan. Hari ini di era digital, semua orang bisa membuat media dan tidak perlu harus mencari legalitas, hanya ngeshoot, upload youtube, kemudian dapat duit. Inilah fakta kemajuan zaman yang harus kita pahami semua.  Kebebasan produk jurnalistik dan non jurnalistik seolah tidak ada bedanya. Padahal sangat berbeda, kalau produk jurnalistik 98 persen saya jamin benar. Kalau selain produk jurnalistik, ya wallahu a’lam,” ungkap Syukron

Lanjut pembicara ketiga Abulaka Archaida menyampaikan  bahwa yang terjadi hari ini di media streaming, media sosial juga, banyak konten negatif yang dimunculkan seperti ujaran kebencian, fitnah, hoax, serta isu agama sangat kental sejak, terutama sejak bergulir kasusnya Ahok di Jakarta. Jangan sesekali, mempublikasikan dan mengshare ulang konten yang berbau negatif sebagaimana yang disebutkan tadi, karena semua itu mengancam persatuan kita. Ia berharap pada generasi muda sekarang harus berani bersikap melihat situasi yang semakin carut-marut terutama dalam proses Pilpres 2019 ini.

“Bagi saya ada beberapa faktor sehingga situasi ini bisa terjadi, diantaranya Lemahnya literasi komunikasi dan politik, bermunculannya para demagog yang justru mengancam kesucian demokrasi itu sendiri, dan melemahnya peran resolusi konflik yang biasanya diperankan lembaga-lembaga sosial. Inilah kondisi hari ini yang sedang terjadi yang seharusnya menjadi perhatian bersama, kemudian kita harus mencari solusinya,” urai Abulaka dengan nada semangat.

Abulaka melanjutkan, fakta sekarang yang terjadi jika dibiarkan begitu saja, maka persoalannya akan mengancam persatuan masyarakat Indoensia ke depannya. Ia menegaskan tidak peduli mau Jokowi atau Prabowo yang terpilih, yang penting jangan menggunakan isu identitas untuk meraih kemenangan.

“Bagi saya dalam situasi ini ada beberapa langkah yang harus dilakukan agar tidak membahayakan persatuan bangsa Indonesia, diantaranya menguatkan kesadaran nasionalisme terutama bagi generasi milenial, membangun budaya literasi digital, kanter hegomoni lewat konten-konten yang mengarah kepada keberagaman, serta diperlukannya keterlibatan semua pihak dalam membangun budaya saling menghargai atas perbedaan dan tidak mengumbar kebencian,” tutup Abulaka mengakhiri pemaparannya.

Setelah pemaparan materi, moderator melanjutkan sesi tanya jawab, kemudian para penya dari audien sangat antusias bertanya kepada pemateri. Setelah berjalan tiga jam lebih waktu sudah menunjukan pukul empat sore sehingga mengharus moderator harus mengakhir jalannya seminar. Setelah sesi seminar ditutup, lalu dilanjutkan deklarasi bersama gerakan menolak konten negatif media streaming yang digunakan kepentingan politik yang diwakili masing-masing organisasi yang terlibat dalam seminar ini. (JA).

About ata IDHAM SYARIEF

Terimakasih telah berkunjung di krsumsel.com.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply