» » » Nasib Rumah Pencipta Lagu 'Hymne Guru' yang Akhirnya Dijual

KRSumsel.com- Rumah pencipta lagu 'Hymne Guru' Sartono di Madiun dijual. Rumah berukuran 15x8 meter itu dijual sejak Hari Raya Idul Fitri 2018.

Damijati, istri almarhum Sartono mengaku rumah di Jalan Halmahera No 98, Kelurahan Oro-Oro Ombo, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun, hanya ditinggali istri dan anak angkatnya, Ratno (45). Sebab Sartono tidak memiliki keturunan. Mereka hidup bersama hingga maut memisahkan. Atau sampai pencipta lagu 'Hymne Guru, itu wafat 1 November 2015.

Setelah kehilangan suami tercinta, Damijati juga akan kehilangan rumah yang menyimpan banyak kenangan bersama Sartono. Menurutnya, saudara almarhum akan menjual rumah tersebut. Menurut Damijati, uang hasil penjualan akan dibagi-bagi untuk ahli waris.

Dia merasa tidak berhak ikut campur dalam proses penjualan rumah tersebut, terlebih pernikahannya bersama almarhum tidak dikaruniai anak.

Dengan raut wajah penuh kesedihan, wanita itu mengaku akan mencari rumah lain untuk tinggal. Ia berharap bisa mengais lebih banyak rezeki dari dua bidang yang tengah ditekuni. Yakni, seni ketoprak dan jasa penyewaan baju adat.

"Saya terserah saja gimana sikap keluarga dari suami saya. Suruh pergi saya ya pergi. Dengan anak angkat yang merawat suami dan kalau bisa saya cari pondokan atau rumah," kata wanita yang sudah pensiun mengajar tahun 2011.

Dia sudah memiliki rencana besar saat rumah kenangan bersama sang suami tercinta laku terjual. Dia akan menjual seperangkat gamelan untuk mengontrak atau membeli rumah.

Seperangkat alat musik tradisional itu hadiah dari mantan Panglima TNI Djoko Suyanto. Gamelan itu diberikan usai pencipta lagu 'Hymne Guru' dan Damijati menjadi bintang tamu di acara Kick Andy pada 2012 silam.


"Ini hadiah saat selesai jadi bintang tamu di acara talk show Kick Andy. Saat itu saya ditanya ibu pengen apa. Saya pengen punya gamelan biar saat pentas tidak sewa lagi," kata Damijati sambil memegang foto almarhum di rumahnya saat berbincang-bincang dengan detikcom.

Soal harga, Damijati tidak tahu secara pasti. Ia hanya akan mendatangi pembuat gamelan untuk membelinya kembali.

"Waktu itu dulu harganya Rp 40 juta, tapi saya tidak mau memasang harga. Terserah berapa oleh pembuat gong dulu yang membuat akan membeli lagi," tandasnya.

Rumah tersebut sebenarnya pernah ditawarkan Wali Kota Madiun Maidi, saat akan mencalonkan diri. Namun hingga terpilih saat ini, belum ada kabar.


"Saya sudah berusaha ke pak wali kota terpilih bilang kalau bisa jangan sampai dibeli orang luar Kota Madiun. Sampai sekarang belum ada kabar atas saran saya itu," jela tetangga Damijati, Mukanah.

Pengamat Pendidikan Kota Madiun Ghandi Yuninta mengaku dunia pendidikan dunia pendidikan prihatin.

"Mendengar kabar bahwa rumah almarhum Bapak Sartono di Kota Madiun akan dijual oleh ahli warisnya barangkali akan membuat keprihatinan yang luar biasa. Apalagi kalau hal tersebut dibeli oleh orang yang tidak mau tahu riwayat pemilik rumah," terangnya.

Kalaupun memang benar dijual, kata Ghandi, pemerintah bisa ikut andil dalam pembelian agar jatuh ke tangan yang tahu sejarah pemilik rumah tersebut. Pemerintah lanjut Ghandi diharapkan bisa membeli rumah tersebut.


Ghandi yang juga mantan Wakil Wali Kota Madiun periode 2004-2009 itu mengungkapkan selain pemerintah kota Madiun, diharapkan organisasi PGRI juga harus ikut andil mengambil langkah agar rumah bisa dipertahankan dan dimanfaatkan untuk dunia pendidikan. (fat/iwd)







About Admin KRsumsel

Terimakasih telah berkunjung di krsumsel.com.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply