» » » Bincang Santai Babinsa Bersama Pengurus Ponpes Tri Barokah

Kediri. Babinsa Bangsal, Serda Samsudi mengunjungi Pondok Pesantren Tri Barokah dan kunjungannya ini tidak lepas niat bersilaturahmi, sekaligus bertatap muka dengan pengurus serta santri-santri di Ponpes tersebut. Ponpes ini terletak di Kelurahan Bangsal, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, dan silaturahmi tersebut masuk dalam agenda khusus bergenre “Mlaku-Mlaku Babinsa”. minggu (20/1/2019).

Dari tatap muka, berlanjut bincang santai antara Serda Samsudi dengan Sadiman, salah satu pengurus Ponpes Tri Barokah. Dari bincang santai tersebut, berbagai pertanyaan dilontarkan untuk mengetahui lebih dalam apa saja yang ada di Ponpes tersebut.

Luas Ponpes Tri Barokah, menurut Sadiman, kurang lebih 1 hektar. Sedangkan keberadaan santri, karena Ponpes ini sistemnya masih kelas dasar yang merupakan cabang dari Ponpes Wali Barokah, pembinaannya bersifat sementara. Sehingga jumlah santri tiap bulannya tidak tetap.

Pembinaan dasar, Sadiman menjelaskan ,”Pembinaan dasar yaitu, bisa baca Al Qur’an dengan lancar, setelah itu bisa menulis Arab dengan mudah, sehingga waktu yang mencakup itu, kurang lebih 2 bulan. Setelah itu, kita antarkan ke Ponpes Wali Barokah untuk meneruskan jenjang berikutnya.”

Sebelum perbincangan tersebut dilakukan, Serda Samsudi sempat bertanya jawab dengan para santri dan ada hal yang ingin diketahui, yaitu kenapa masa pendidikan santri tidak sama, ada yang 2 bulan, bahkan ada yang hingga 6 bulan.

“Memang waktu 2 bulan itu, waktu normal untuk santri yang dari rumahnya sudah ada bekal. Sudah ada bekal membaca Al Qur’an dengan lancar, bekal menulis Arab dengan mudah. Adapun santri yang dari rumah itu bekalnya masih nol, bacaan Al Qur’an masih kurang lancar, menulis Arab masih sulit, jadi waktu yang digunakan bisa lebih dari 2 bulan,” jawab Sadiman.

Serda Samsudi lantas menanyakan latarbelakang para santri, menurut hasil perbincangan langsung dengan para santri, mereka berasal dari berbagai daerah, bahkan ada yang dari luar negeri.

“Untuk bulan ini, dari luar negeri ada 2 orang, semuanya dari Malaysia. Selama ini memang belum pernah selain Malaysia dan Brunei. Tetapi semua perlakuan dilakukan sama. Dari Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi, Kalimantan, Malaysia, semua jadi satu, tidak ada perbedaan,” ungkap Sadiman.

Tiap-tiap kelas, dikatakan Sadiman, dibagi berdasarkan kemampuan masing-masing santri, dalam artian yang sudah ada bekal bisa baca Al Qur’an dengan lancar dan bisa menulis Arab dengan mudah, dikelompokkan dalam kelas yang berbeda. Demikian pula bagi santri yang dari rumah itu bekalnya masih nol, bacaan Al Qur’an masih kurang lancar, menulis Arab masih sulit, dikelompokkan dalam kelas yang terpisah.

Perbincangan santai ini dilakukan, sebagai upaya mengenalkan atau mendekatkan diri sosok Babinsa dengan segala elemen atau komponen di desa maupun kelurahan. Bincang santai ini, sekaligus menggali lebih dalam potensi-potensi daerah yang mungkin ada di desa-desa atau kelurahan-kelurahan. (dodik)

About Redaksi Krsumsel

Terimakasih telah berkunjung di krsumsel.com.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply