» » » » Herman Deru Berhasil "Lenyapkan" Angbara

KRSUMSEL.COM - Sejak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel mencabut Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 23 Tahun 2012 tentang Tatacara Pengangkutan Angkutan Batu Bara di Jalan Umum yang secara otomatis angkutan batu bara dilarang melintas di Jalan umum berlaku mulai Kamis (8/11) pukul 00.00 WIB kemarin, kini angbara nihil melintas di jalan umum


Tentu hal tersebut disambut psitif oleh sebagian besar warga Kabupaten Lahat, Muara, PALI, dan Kota Prabumulih serta pennguna jalan umum yang selama ini diresakan oleh angbara yang menjadi biang kerok kemacitan di sepanjang jalan umum menuju Provinsi Sumel, yang sangat meresakan dan tidak jarang mengakibatkan kecelakan baik menelan korban jiwa maupun mengalami luka luka akibat oknum supir angbara yang ugal ugalan 


Tokoh Pemuda Desa Talang Bulang Kecamatan Talang Ubi Kabupaten PALI Mardianto (Grandong), mengatkan dirinya dan masyarakat Desa Talng Bulang khusunya dan Kabupaten PALI umumnya sangat menyambut dengan atusias dan mengucapkan terimah kasih yang banyak kepada Pemerintah Provinsi Sumsel yang telah berpihak kepada masyarkat kecil 


"Kami sangat menyambut antusias dan positif dengan adanya kebijakan ini, semoga ini mejadi kenyataan dan hanya semntara atau sesaat saja, masyarakat Desa Talng Bulang khusunya dan Kabupaten PALI umumnya sangat menyambut dengan atusias dan mengucapkan terimah kasih yang banyak kepada Pemerintah Provinsi Sumsel yang telah berpihak kepada masyarkat, apa lagi sudah banyak menelan korban baik yang Meninggal dunia maupun yang luka berat maupun ringan akibat kegnasan angkutan batu bara." Ujar Grandong Rabu (9/11)



Namun di sisi lain dengan adanya penghentian angbara di jalan umum menimbulkan polemik baru bagi parah pengemudi truk pengangkut batu bara tersebut. Karena, pihak perusahaan belum memberikan pernyataan resmi jalur mana yang harus dilewati angkutan batu bara untuk menuju pelabuhan selain jalan umum. Imbasnya, pengemudi angkutan batu bara harus menghentikan aktivitasnya sebelum ada kepastian dari pihak perusahaan angkutan batu bara dan pemerintah terkait permasalhan tetsebut.


“Untuk saat ini kami masih nganggur dulu om, kalau kami maksa narik, takut kena razia dan di stop warga, dan kalau lewat jalan khusus batu bara milik PT Servo belum ada perintah, dari pihak terkait” ucap Jon, satu diantara pengemudi angkutan batu bara asal Kabupaten PALI, Jumat (9/11).


Kalau kondisi tersebut tidak ada kepastian atau berlarut-larut, diakui Jon pemilik truk angkutan batu bara bahwa kendaraannya terancam ditarik pihak leasing. Sebab, dipastikan, apabila dirinya menganggur, kendaraan yang dimilikinya melalui kredit tidak bisa untuk mengangsurnya.


"Kami berharap pihak perusahaan atau pemerintah mencari solusinya, sebab bukan hanya kami saja yang nasibnya tergantung dengan batu bara, tapi masih ada ratusan bahkan ribuan sopir yang bernasip sama seperti kami om, yang kehilangan pekerjaan,” tambanya


Terpisah, Slamet Suhartopo Plt Kepala Dishub PALI mengatakan bahwa pihaknya menunggu arahan dari Dishub provinsi untuk jalankan aturan Pemprov Sumsel. "Itu wewenang Pemprov, jadi kemungkinan pada Kamis malam akan lakukan razia gabungan antara Dishub provinsi dan dari Polda. Informasinya di pintu gerbang masuk Kabupaten Muara Enim. Kalau kami tetap siaga dan menunggu arahan dari Dishub provinsi.” Pungkas Slamet. (hb)

About Redaksi KR Sumsel

Terimakasih telah berkunjung di krsumsel.com.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply