» » » Ice Milk Steak Bakal Menjadi Idola Baru Warga Desa Jugo


KEDIRI. Puluhan peternak sapi maupun kambing perah Desa Jugo, berkumpul di balai Desa Jugo yang berlokasi tidak jauh dari keberadaan puncak Gunung Wilis, terkait agenda TMMD di Kediri. Peningkatan harga susu perah dibanding olahan susu perah menjadi dasar utama penyuluhan ini diadakan di balai Desa Jugo, Kecamatan Mojo. rabu (31/10/2018)



Sebagaimana dijelaskan Wakil Dekan I, Ir.Sri Susilowati,MM dari Unisma (Universitas Islam malang), bahan pembuatan ice milk stick, terdiri dari susu 1 liter, gula 125 gram, essen pasta atau perasa serta buah. Sedangkan peralatan yang digunakan ialah kompor, pengaduk, gunting, corong atau botol plastik, panci stainless steel besar maupun kecil, frezzer, plastik dan karet. Sebelumnya, semua peralatan harus disetrilkan terlebih dahulu, agar kebersihan terjaga.



Susu direbus dengan cara di steam sambil diaduk-aduk sampai hampir mendidih. Lalu, gula dan essen pasta dimasukkan sambil terus diaduk-aduk. Selanjutnya, kompor dimatikan dan diabaikan sebentar.



Potongan plastik berukuran lebih kurang 20 cm disiapkan dan ujungnya diikat. Hasil dari memasukkan gula dan essen yang diaduk-aduk sebelumnya, dimasukkan kedalam potongan plastik menggunakan corong atau botol plastik, dan kemudian diikat dengan karet.



Selanjutnya, potongan plastik yang sudah terisi dan diikat tersebut dimasukkan frezzer selama lebih kurang 2 hari lamanya. Selang waktu 2 hari lamanya pasca pengolahan susu tersebut, ice milk stick siap dikonsumsi siapa saja.



Menurut Sri, harga susu perah sapi di Desa Jugo, maximal dijual dengan nilai Rp 5.200,- per liter, sedangkan bila susu ini terlebih dahulu diolah menjadi ice milk stick, 1 liter susu perah sapi tersebut bisa meraih omset sebesar Rp 30.000,-.



Kalkulasi pendapatan, Sri menghitung omset sebesar Rp 30.000,- belum termasuk potongan keuntungan kepada penjual atau pihak kedua, dan ia berasumsi tiap liternya bisa mencapai 20% dari omset, atau sebesar Rp 6.000,- per liter. Sehingga pendapatan kotor (belum dipotong biaya produksi) per liternya bisa mencapai Rp 24.000,-.



“Setidaknya, peternak (susu perah) bisa mendapat pendapatan kotor sebesar Rp 24.000,-, bila harga jual kepada pihak kedua kita asumsikan sebesar Rp 30.000,-. Ini hitung-hitungan asumsi, bisa lebih, bisa juga kurang. Kalau ada selisih, tidak banyak, paling hanya sekitar 5% dari nominal asumsi. Yang jelas, sudah pasti ada peningkatan pendapatan dibanding,” jelas Sri. (dodik)

About Redaksi KR Sumsel

Terimakasih telah berkunjung di krsumsel.com.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply