» » » » BI: GWM Averaging Bisa Cegah Bubble Likuiditas Perbankan

Jakarta, KRSUMSEL.COM - Masih banyaknya dana atau likuiditas perbankan yang mengendap di Bank Indonesia (BI) berpotensi menciptakan bubble. Padahal BI menyebutkan dana tersebut seharusnya bisa digunakan untuk penyaluran kredit.

Bubble likuiditas adalah kondisi berlebihnya dana dari perbankan yang kembali masuk ke BI akibat tidak adanya pilihan instrumen untuk menyalurkan dan pengedaran uang.

Saat ini ada sekitar Rp 400 triliun dana likuiditas perbankan jangka pendek yang kembali ke BI.

"Walaupun sebenarnya BI tidak mau dana itu masuk lagi ke sistem, karena itu BI kendalikan lewat GWM ini," kata Mirza Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara dalam seminar sosialisasi GWM Averaging di Jakarta, Senin (3/7/2017).

Ibarat gelembung, semakin besar dana yang mengendap, semakin besar pula beban biaya pengelolaan dana yang ditimbulkan. Hingga pada satu ketika sistem keuangan tak sanggup lagi menanggung beban tersebut karena nilai bebannya melebihi nilai dana yang mengendap itu sendiri.

Akibatnya gelembung tersebut pecah dan mengganggu sistem keuangan secara keseluruhan.

"Suatu saat kalau harga itu naik terus, melewati fundamentalnya, kalau bubble pecah, maka ekonomicollapse," kata dia.

Idealnya, setiap dana yang masuk ke perbankan harus disalurkan ke sektor produktif dalam berbagai bentuk instrumen penyaluran seperti kredit pemilikan rumah, kredit kendaraan hingga kredit modal kerja.

Dana yang beredar lewat penyaluran kredit tersebut bakal menggerakkan roda perekonomian lalu kembali lagi ke lembaga keuangan dengan nilai yang lebih tinggi sehingga bisa menutupi beban biaya pengelolaan dana tadi.

"Ketika ekonomi lesu, maka harus di-trigger dengan memberikan stimulus, memberi subsidi, penurunan pajak, penurunan suku bunga dan menurunkan GWM, intinya bubbleharus dicegah, resesi harus dicegah," ujar dia.

Karena itu, bank sentral berupaya mencegah terjadinyabubble likuiditas tadi dengan mengeluarkan kebijakan moneter Giro Wajib Minimum (GWM) yang wajib dipenuhi secara rata-rata atau GWM Averaging.

"GWM Averaging bisa jadi fasilitas likuiditas tambahan untuk bank dalam penyaluran kredit," kata Mirza.

Per 1 Juli 2017, BI telah menerapkan aturan GWM Primer yakni pemenuhan dalam rupiah yang dipenuhi harian sebesar 5% dari dana pihak ketiga (DPK) dan GWM Averaging sebesar 1,5% dari DPK dalam rupiah selama periode tertentu.

Adapun aturan GWM Averaging tertuang dalam Peraturan BI (PBI) No.19/6/PBI/2017 tentang Perubahan Kelima Atas PBI No.15/15/PBI/2013 tentang Giro Wajib Minimum Bank Umum dalam Rupiah dan Valuta Asing Bagi Bank Umum Konvensional.

"Bank sentral bertugas menjaga kondisi likuiditas supaya tidak terjadi bubble. Jika bubble pecah maka bisa berdampak ke ekonomi," imbuh dia. (dna/dna)

About Redaksi KR Sumsel

Terimakasih telah berkunjung di Serumpun Radio.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply